Selasa, 15 Mei 2012

Wanita dan Hijab


            Salam hangat untuk akhwat Al huda dimanapun berada, semoga Rabbuna senantiasa menja diri kita dari fitnah dimanapun berada dan semoga kita semua selalu dalam lindungan-Nya, aamiin. Kesempatan kali ini, kami akan membahas seputar wanita dan hijab. Semoga tulisan ini dapat memotivasi para akhwat yang belum berhijab untuk memakai hijab, serta memantapkan para akhwat yang telah berhijab bahwasannya hijab merupakan syari'at Islam yang insyallah akan menjaga pemakainya dan tidaklah dipakai untuk menjadi cantik akan tetapi memakainya itu menutupi kecantikan seorang wanita dan yang lebih utama bahwa hijab merupakan syari'at Islam diperintahkan oleh Allah SWT.



Latar Belakang
            Hijab merupakan bentuk pemuliaan Islam terhadap wanita yang kemudian disyari'atkan didalamnya dan pensyari'atan hijab ini merupakan bentuk cinta Allah terhadap kaum wanita, karena fungsi utama hijab adalah untuk melindungi kita, para wanita.
            Arti dari hijab yang akan kami bahas disini yaitu: pakaian wanita muslimah yang menutup bagian kepala sampai dengan kaki (termasuk didalamnya jilbab/kerudung dan pakaian yang tidak memperlihatkan lekuk tubuh), oleh karenanya kami menggunakan kata ‘HIJAB’ bukan ‘JILBAB’.
Dan diantara dasar-dasar hukum berhijab adalah firman Allah dalam Al-Qur'an-Nya:

“Dan katakanlah kepada para perempuan yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya dan memelihara kemaluannya, dan janganlah menampakkan perhiasan (auratnya), kecuali yang (biasa) terlihat. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka.” (QS. An-Nuur: 31)


“Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin: Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”(QS. Al-Ahzaab: 59)

            Ayat ini diturunkan, ketika para istri-istri Rasulullah saw dan para muslimah lainnya hendak membuang hajat pada malam hari, mereka menemukan para lelaki duduk-duduk di jalanan yang mana para lelaki itu suka mengganggu para budak-budak wanita, dan karena pada masa itu wanita belum berhijab, maka seakan-akan tidak ada bedanya antara muslimah merdeka, budak, atau wanita kafir. Oleh karenanya Allah memerintahkan kaum muslimah untuk berhijab agar membedakan antara wanita merdeka dengan para budak atau wanita kafir, dengan artian agar mereka tidak diganggu. Dan kenyataanya memang para lelaki lebih enggan mengganggu perempuan yang berhijab daripada wanita yang tidak berhijab.

            Dari sebab turunnya ayat di atas menunjukkan, bahwa hijab disyariatkan untuk menghormati, memulyakan, serta menjaga kehormatan kaum wanita, bukan untuk mengekang kaum wanita, seperti sangkaan sebagian orang tentang hijab. Hijab juga untuk membersihkan hati, melahirkan akhlaq yang mulia, menjaga rasa malu, mencegah dari keinginan dan hasrat syaithoniah, menjaga ghirah, serta hijab merupakan tanda kesucian.
Mengapa Hijab Hanya Disyari'atkan untuk Kaum Wanita?
            Islam mensyari'atkan sesuatu sesuai dengan kodrat dan kemampuan mukallafnya. Seperti halnya, wanita diberi kewajiban untuk mengasuh anak-anaknya karena pada dasarnya wanita diciptakan oleh Allah dengan sifat ke-ibu-annya, dan wanita lebih mengedepankan perasaannya. Sedangkan laki-laki berkewajiban untuk menafkahi keluarganya karena laki-laki diciptakan Allah dengan sifat kuat-nya dan laki-laki lebih mengedepankan akal fikirannya.
Sama halnya dengan hijab, hijab disyari'atkan hanya untuk perempuan karena perempuan itu rawan fitnah, karena ia diciptakan dengan kecantikan, suara, dan gerakan yang mempesona. Sedangkan laki-laki aman dari fitnah, apalagi laki-laki terkenal dengan sifat ke-pemberani-an dan ke-pemimpin-annya. Maka seandainya laki-laki memakai hijab atau jilbab maka dia akan terlihat lemah dan malah akan dilecehkan.
            Begitu juga seperti yang telah disebutkan dalam hadits bahwa perempuan adalah perangkap syetan yang paling berbahaya. Dan sebagaimana dikatakan bahwa wanita adalah perhiasan, bukankah perhiasan yang bagus itu adalah yang terjaga, sedangkan yang terbuka harganya lebih murah?!

Tuduhan-tuduhan dan Anggapan Keliru Tentang Hijab
Saat ini banyak para akhwat yang masih enggan untuk berhijab dengan alasan-alasan tertentu, diantaranya:

1.    Berhijab itu susah
            Sebagian akhwat beranggapan bahwasannya Islam itu susah dan merepotkan, salah satunya dengan pensyari'atan hijab. Menurut mereka wanita tidak bebas dalam Islam, wanita selalu berada dalam kungkungan norma-norma yang harus dipatuhi.
Padahal pada kenyataannya, Islam itu sesuai dengan fitrah manusia, semua tuntutan hidup ada dalam Islam dan semua yang manusia harapkan juga hanya ada dalam Islam. Sebagaimana kita lihat, begitu banyak orang-orang kaya non Islam yang menghamburkan uangnya hanya untuk mencari ketenangan hati dan kenyamanan hidup. Namun mereka tidak bisa menemukannya karena mereka jauh dari Islam. Padahal kalau seandainya mereka bergabung dalam Islam (masuk agama Islam) dan hanya memohon pertolongan kepada Allah, maka tanpa susah payah ia akan menemukan ketenangan batin sesuai dengan yang mereka cari.

2.    Hijab mempersulit untuk mendapatkan jodoh
            Perlu akhwat ketahui, bahwasannya hijab merupakan salah satu ciri bahwa akhwat adalah wanita sholihah. Dan jika akhwat ingin mendapatkan suami yang sholih, maka akhwat tidak akan mendapatkannya jika belum berhijab (karena hijab adalah salah satu ciri wanita sholihah). Dan laki-laki yang sholih hanya akan mencari wanita sholihah, bahkan laki-laki yang buruk perangainya pun akan mencari wanita yang sholihah. Sebagaimana firman Allah:
وَالطَّيِّبَاتُ لِلطَّيِّبِينَ وَالطَّيِّبُونَ لِلطَّيِّبَاتِ
“Dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula).” (QS. An-Nur: 26)

3.    Belum ada hidayah
            Sebagian akhwat beralasan bahwa Allah belum memberikan hidayah kepadanya untuk berhijab. Alasan ini sangat bertentangan sekali dengan firman Allah dalam Al-Qur'anNya:
وَالَّذِينَ اهْتَدَوْا زَادَهُمْ هُدًى وَآتَاهُمْ تَقْوَاهُمْ
“Dan orang-orang yang meminta petunjuk dan hidayah Allah, maka Allah akan memberikan balasan dari ketaqwaannya.” (QS. Muhammad: 17)
Jadi seharusnya hidayah itu dicari bukan ditunggu dengan berpangku tangan saja. Dan banyak hal yang bisa dilakukan untuk mendapatkan hidayah, seperti halnya dengan banyak mendekatkan diri kepada Allah dan berdo’a kepada-NYA, maka Insya Allah hidayah itu akan datang, karena Allah tidak pernah menyia-nyiakan amal dan usaha hamba-NYA.

4.    Takut rizki tak kunjung datang
Allah berfirman dalam Al-Qur'anNya: 
وما من دابة في الأرض إلا على الله رزقها
"Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezkinya." (QS. Hud: 6)
            Jadi, kita selaku makhluk Allah tidak perlu khawatir akan datangnya rizqi, karena sesungguhnya rizqi itu adalah rahasia Allah yang tidak ada satu makhlukpun mengetahui kapan dan dari mana rizki itu akan datang. Allah akan mendatangkan rizqi dari segala macam sumber dan dengan berbagai macam cara yang mungkin tidak terkirakan oleh makhluk-NYA. Disisi lain, Allah juga telah manjanjikan kebahagian dan kemudahan dalam hidup seseorang jika ia mengerjakan amal sholeh, seperti halnya berhijab.
5.    Berhijab adalah taqlid bukan syari’at
            Banyak orang beranggapan bahwasannya berhijab hanyalah sebuah taqlid atau ikut-ikutan, bukan syari'at atau perintah Allah untuk hambaNya. Anggapan ini bertentangan dengan dalil hijab yang telah kami jelaskan di atas. Jadi jelas sekali bahwa Al-Qur'an lah yang memerintahkan kita untuk berhijab, bukan taqlid belaka.

6.    Iman itu letaknya di hati
            Banyak para remaja yang beralasan seperti ini,“Pakai hijabnya nanti saja, yang penting hatinya dihijabi dulu,” atau “Pakai hijabnya nanti saja daripada nantinya dilepas lagi.” Pernyataan ini sangat rancu, bukankah kalau kita ingin memperbaiki hati (batin) maka kita harus memperbaiki dlohirnya juga? Seperti dikatakan bahwasannya dlohir seseorang menunjukkan batinnya.
Jadi berhijab merupakan salah satu jalan untuk memperbaiki dan membersihkan hati, karena dengan berhijab akan tumbuh rasa untuk menyesuaikan diri, menata hati, sikap dan kelakuannya dengan hijab yang dikenakannya. Berhijab juga merupakan ibadah sederhana yang paling mudah. Dan dari sini, dengan berhijab, maka akan membentengi diri dari kemaksiatan dan kemungkaran yang sering terjadi saat ini seperti pelecehan seksual dan lain sebagainya.
Jadi tidak perlu lagi menunggu hatinya baik dan bersih untuk berhijab, karena kita tidak pernah tahu kapan ajal akan menjemput, dan jika ajal datang maka tiada gunalah segala amal. Oleh karenanya jika berhijab bisa dilakukan saat ini, maka tak perlu menunggu hatinya baik terlebih dahulu, berhijablah dulu lalu dengan hijab kita coba untuk memperbaiki diri. Selamat mencoba!

7.    Dengan hijab seakan-akan kembali ke zaman onta lagi
“Pake hijab? Gak ah, gak modis, gak keren!” Alasan ini biasanya sering dilontarkan oleh para remaja muslimah. Mereka beranggapan bahwa dengan hijab, mereka tidak akan bisa bergerak, tidak bisa berekspresi sesuai dengan keinginannya, serta tidak bisa mengikuti tren mode yang sedang nge-hits.
Sebenarnya hijab bukanlah alasan yang tepat untuk mengklaim bahwa dengan berhijab akan mati gaya, dengan berhijab para wanita tidak bisa berekspresi, bahkan trend fashion yang sedang nge-hits saat ini adalah baju busana muslimah. Buktinya, merk 'Gucci' (salah satu merk yang telah mendunia) telah memperkenalkan busana muslimah pada kancah internasional.

                                                Tantangan Hijab di Barat
            Kini banyak sekali terjadi kekerasan pada para jilbaber di Barat, terlebih setelah peristiwa pemboman Menara Kembar WTC Amerika pada bulan September 2001. Tak lain sebab utamanya yaitu karena orang Barat telah terjangkit virus yang bernama ‘Islam Phobia’. Istilah ‘Phobia’ ini digunakan kepada ketakutan atau kecemasan seseorang tanpa ada sebab-sebab tertentu.

            Sebenarnya Islam Phobia ini telah ada sejak dulu, namun setelah fenomena pemboman WTC terebut istilah ini semakin gencar dan menguat. Pasca kejadian ini sikap Amerika Serikat seringkali memusuhi kaum muslim karena dicap sebagai ajaran teroris. Virus Islam Phobia ini kemudian merambat ke negara-negara Barat, terutama di Eropa. Efek para phobiawan atau phobiawati di Prancis menyebabkan adanya larangan kepada para muslimah untuk memakai cadar, yang kemudian masyarakat muslim di negara-negara non-muslim memperingati ‘Hari Solidaritas Jilbab Internasional’ setiap pekan pertama bulan September. Hari peringatan itu dipelopori oleh Assembly for the Protection of Hijab sejak tahun 2004, sebagai bentuk protes atas larangan berjilbab yang diberlakukan negara Prancis.
            Di Prancis, seorang wanita yang memakai niqob atau cadar yang menutup seluruh tubuhnya, akan didenda 150 euro serta diwajibkan menghadiri kelas pendidikan kembali. Sedangkan lelaki yang memaksa anggota keluarga wanita mereka untuk memakai niqob, dapat dikenai hukuman lebih berat termasuk penjara dua tahun dan denda 30.000 euro atau lebih. Jadi, betapa kejamnya orang Barat memperlakukan para wanita terutama para jilbaber.

            Para phobiawan atau phobiawati Islam sebenarnya sudah mengerti bahwa Islam tidak mengajarkan kekerasan akan tetapi mengajarkan kedamaian, keindahan, toleransi, saling menghormati, dan lain-lain. Tapi bagi mereka ketika ada sebagian umat Islam yang melakukan tindakan aneh, seperti terorisme atau apapun yang buruk atau merugikan, maka itu adalah kesempatan mereka untuk merusak citra Islam dengan segala reputasinya.

             kelompok yang beraliran keras atau Islam radikal berpandangan bahwa dengan jalan kekerasan mereka dapat mewujudkan tujuan mereka. Sebenarnya mereka memiliki tujuan untuk memberantas segala kemungkaran di dunia ini, namun terkadang cara mereka yang salah, mereka kerap kali mengambil ”jalan pintas” untuk menyelesaikan suatu masalah. Mungkin dalam masalah hijab ini para Islam radikal menghukuminya dengan keras pula. Padahal sebenarnya batasan-batasan berhijab ini merupakan masalah khilafiyah antar ulama, dan menurut jumhur (kebanyakan ulama) mengatakan bahwa aurat wanita adalah seluruh tubuh kecuali wajah dan telapak tangan. Karena kekerasan yang dilakukan para Islam radikal ini maka orang Barat mengklaim bahwa Islam adalah agama yang keras dan penuh dengan kekerasan, bahkan para muslimah dikatakan sebagai teroris. Padahal sebenarnya Islam diturunkan ke dunia sebagai agama yang toleran, agama yang rahmatan lil 'alamin, ajaran yang merupakan berkah bagi seluruh alam bukan sebagai agama yang ditakuti dan penuh kekerasan.

            Marwa Al-Sharbini adalah salah satu korban Islam phobia di Jerman. Marwa adalah seorang muslimah yang berasal dari Mesir yang taat terhadap aturan Islam dan memperjuangkan hijab di Jerman. Marwa tidak terima ia dilecehkan sebagai seorang muslimah dengan pelarangan memakai jilbab, sehingga akhirnya Marwa naik banding ke pengadilan untuk menuntut atas haknya sebagai warga muslimah, namun yang ia dapatkan malah sebaliknya. Seorang ibu dari tiga anak yang tengah hamil 3 bulan ini akhirnya harus gugur dengan 18 tusukan pisau di tubuhnya yang dilakukan oleh Alex Wiens, seorang pemuda Jerman keturunan Rusia, hanya demi memperjuangkan jilbabnya. Pemerintah Jerman berusaha menutup-nutupi kasus yang terjadi pada rabu 1 Juli 2009 tersebut, tapi mereka tak mampu membendung berita yang telah menyebar ke dunia dan akhirnya menuai kemarahan dan kutukan-kutukan komunitas muslim di Mesir dan Jerman serta seluruh umat muslim di dunia yang masih peduli terhadap nilai-nilai ajaran Rasulullah saw. Ketua Assembly for the Protection of Hijab, Jerman, Abeer Pharaon, lewat situs Islamonline berkata, “Ia (Marwa) korban Islam phobia, yang masih dialami banyak muslim di Eropa. Hari kematian Marwa layak untuk diperingati dan dijadikan sebagai Hari Hijab Sedunia.” Dan kemudian perkataan Abeer ini mendapat banyak dukungan dari pemuka muslim dunia.

                                                                        Penutup

            Dari paparan diatas disimpulkan bahwasannya sistem hijab adalah sistem sempurna dan terpadu. Sempurna karena hijab merupakan perintah dari Allah swt serta hijab itu sesuai dengan fitrah manusia yang bertujuan untuk mencapai kemaslahatannya. Dan terpadu karena sistem ini menggabungkan segala sistem dalam Islam yang berasaskan aqidah dan keimanan pada Allah. Jadi karena perintah hijab ini datangnya dari Allah, maka peraturan ini merupakan peraturan yang syamil (menyeluruh) untuk para muslimah, dan peraturan ini harus selalu dilakukan dalam seluruh kegiatan masayarakat baik dalam bidang sosial politik, ekonomi, pendidikan, dan lain sebagainya.

Wallahu a'lam,
Semoga bermanfaat.

(Tulisan ini adalah hasil siaran kajian keputrian mahasiswi-mahasiswi Al-Ahgaff, disusun oleh: Ulfatul Ummah dan Dina Prasetyowati dengan beberapa pengeditan)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar